Kelestarian Lingkungan dan Globalisasi Ekonomi: Mari Melihat Lebih Cermat

 

Sebuah demonstrasi besar pertama mengenai gerakan anti globalisasi terjadi pada tahun 1999, ketika sebuah pertemuan petinggi World Trade Organization (WTO) digelar di Seattle. Para demonstran menggunakan kostum penyu untuk menggambarkan kekecewaan mereka atas regulasi yang dikeluarkan oleh WTO, yang dinilai mengancam keselamatan penyu dalam menjamin aliran perdangan bebas udang. Keputusan panelis WTO tersebut mengatasnamakan perdagangan bebas, dan mereduksi kedaulatan Amerika Serikat unruk melindungi apa yang ada di negaranya (Frankel,2003:3). Kesadaran masyarakat dunia atas pentingnya menjaga lingkungan seringkali semerta-merta mendorong mereka pada penyalahan atas globalisasi dan ekonomi global. Tulisan ini akan mencoba mengantarkan ide mengenai lingkungan yang lestari, ekonomi global, serta sejauh mana keduanya saling melengkapi atau saling berlawanan. Sehingga diharapkan pembaca akan mampu melihat sisi lain dari asumsi publik yang biasanya tertelan mentah-mentah bahwa globalisasi ekonomi merupakan hal yang destruktif bagi kelestarian lingkungan.

Kesadaran manusia akan pentingnya menjaga lingkungan hidup sekiranya tidak dapat terlepas dari berkembangnya rasa, karsa dan pola berfikir manusia. Semakin manusia memahami sesuatu maka semakin mereka menghargai sesuatu tersebut. ekonomi ialah salah satu pendukung manusia untuk mendapatkan pengetahuan serta memahami sesuatu, menilik dari kesempatan yang didapatkan oleh manusia untuk memepelajari sesuatu akan meningkat dengan adanya kenaikan taraf ekonomi, suatu hal yang sukar untuk dipungkiri. Dengan fasilitas yang diberikan oleh peningkatan ekonomi, manusia mulai paham bahwa lingkungan tidak akan dapat melakukan regulasinya dengan sendirinya, menjaga imunitasnya tanpa bantuan manusia, sebagai salah satu makhluk hidup yang berada dalam aspek pendukung kelestarian lingkungan. Sepertiyang dituliskan Frankel (2003:1) dalam tulisannya bahwa, manusia sesungguhnya memiliki kepedulian terhadap baik lingkungan hidup maupun ekonomi, tidak hanya salah satunya. Ketika pendapatan mengalami peningkatan, maka permintaan untuk lingkungan yang berkualitas akan meningkat pula. Dari pendapat Frankel diatas dapat dilihat bahwa sesungguhnya lingkungan dan ekonomi merupakan dua hal yang saling mendukung satu sama lainnya.

Like it or not, we all live on this planet. We are part of something bigger than ourselves; we are part of the environment. We all breathe the same air and drink the same water. We all walk on the same ground and experience the same sunshine and moonlight. Earth is something that we all have in common. It is our home and we have to preserve it (Soluk,2010).

Sebuah paragraf diatas ialah penggalan dari tulisan yang diunggah dalam sebuah website, ketika kita mengetik kata kunci dalam sebuah website “search engine” mengenai lingkungan akan ada banyak tulisan yang mengantarkan ide mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Jika kita menilik lagi hal-hal yang berada dibalik fenomena tersebut, kita akan menemukan sebuah jawaban bahwa ekonomi dan globalisasi juga turut berperan dalam penyebaran kesadaran akan melestarikan lingkungan. Kemajuan ekonomi, memberi kesempatan bagi manusia di seluruh dunia untuk mengakses internet, dengan demikian segala informasi yang menggugah kesadaran kita tentang lingkungan akan dengan mudah didapatkan.

Mari kita melihat contoh lainnya lagi dalam menjawab pertanyaan yang telah disebutkan pada awal tulisan ini. Yakni industri fesyen dunia, sebuah majalah fesyen dunia yang terkenal mengangkat isu eco-fashion dalam sebuah tulisannya pada tahun 2005. Eco-feashion turut menjadi salah satu media penyadaran manusia di seluruh dunia akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, walaupun disaat ekonomi merupakan hal yang penting, terutama dalam konteks globalisasi ekonomi. We have this idea that we’re going to make people label-aware… . Where it was made, who made it, how it’s made” (Bono dalam Sulivan, 2005). Titik balik kesadaran masyarakat mengenai bagaimana menjalankan industry fesyen akan tetapi tidak merusak lingkungan dimulai pada tahun 1989, saat Martin Margiella, seorang designer internasional, menggunakan bahan-bahan daur ulang untuk koleksinya. Dengan alasan bahwa tidak ingin membebani bumi lebih berat. Kemudian setelah itu kesadaran mengenai eco-fashion pun semakin marak, walau sesungguhnya sampai saat ini tidak semua industry fesyen menganut eco-fashion, akan tetapi setidaknya penghantaran ide mengenai pentingnya menjaga lingkungan turut dibantu oleh globalisasi ekonomi dan fenomena globalisasi sendiri. Lalu benarkah bahwa perkembangan ekonomi hanya mengakibatkan degradasi lingkungan? Sepertinya masih banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika berusaha menjawab pertanyaan tersebut.

Tulisan Frankel (2005) menyebutkan adanya tiga aktualisasi peranan yang dilakukan oleh globalisasi ekonomi terhadap pelestarian lingkungan. Yang pertama ialah kekuatan konsumen untuk turut melestarikan lingkungan. Yang kedua ialah peranan organisasi multilateral dalam pelestarian lingkungan. Serta yang ketiga ialah cross-country statistical evidence, atau perjanjian antar negara mengenai ekonomi yang berbasis pelestarian lingkungan, seperti contohnya ialah Protokol Kyoto.

Dapat disimpulkan bahwa tidak bisa semata-mata kita hanya melihat beberapa fenomena untuk mengatakan bahwa globaisasi ekonomi merupakan salah satu aspek destruktif yang dominan terhadap lingkungan. Sekiranya pola berpikir yang demikian perlu untuk ditinjau ulang. Melihat banyaknya bukti yang justru mendukung bahwa globalisasi ekonomi membantu kesadaran untuk melestarikan lingkungan.

Referensi:

Brown, Bobbi. t.t. ”Turning Point: Eco Fashion” [online] tersedia dalam [http://www.vogue.com/voguepedia/Eco_Fashion] diakses pada 17 Maret 2013.

Jeffrey A. Frankel, 2005, “The Environment and Economic Globalization”, dalam Michael M. Weinstein (ed.),  Globalization: What’s New, Columbia University Press

Soluk,Andrew.2010.“Why we Need to Protect Our Environtment” [online] tersedia dalam [http://www.newpolity.com/2010/10/21/why-we-need-to-protect-our-environment/] diakses pada 17 Maret 2013.

Sulivan,Robert.2005.”Stream of Conscience” dalam Vogue Magazine March 2005.



(via lanafan)


(via lanafan)


(via nevver)